Curahan Hati

Akhir Cerita Cinta


Sekian tahun ku mencoba memendam ini……

Aku berfikir hingga kapan ???

Tapi ku rasa ini lah saatnya …

Saat dimana aku harus pergi meninggalkan mu…

Ku juga manusia, ku memiliki rasa…

Ketika dirimu berkata “ku menyayangimu”..

Aku merasa itulah awal dari segalanya yang berjalan sekian tahun…

Sekian tahun ku jalani dengan penuh kesabaran…

Setiap bertatap muka dengan mu…

Aku akan memendam rasa lelahku…

Akan ku pendam rasa sayangku..

Rasa cintaku,,

Karena aku tidak ingin kau semakin mengetahui semua ini…



Tapi aku masih berat meninggalkanmu…

Berat rasanya menghindar darimu…

Berat rasanya melepasmu..

Mungkin hari-hari ku tak akan seindah biasanya…

Mungkin tak ada senyuman lagi di hidupku…

Karena bagiku dirimu adalah senyum dan semangatku….

Bagiku kau adalah mentari yang menyinari hariku…

Rembulan yang menemani malamku….



Hidupku kan terasa hampa…

 Hidupku kan terasa sepi…

Ku akan merindukan tawa mu,,,

Ku akan merindukan air mata kesedihanmu…

Ku akan merindukan suara berisik dari mu…

Ku akan merindukan peluk hangat dari mu….



Akan kah keputusan ku untuk melupakan mu tepat ???

Akankah aku bisa tanpa mu….



Dan mungkin kata “ selamat tinggal “

Membuatku lebih mampu untuk bisa melupakan mu…

Kata “ semoga kau bahagia “

Kan kuucapkan pada mu….

Itulah akhir cerita cintaku …

Akhir bukan berarti akhir kehidupanku…

Tapi aku akan kembali mengawalinya dengan senyuman …

Akan ku simpan kenangan indah yang hangat bersamamu….



Untuk mu yang mengisi tahun-tahun ku dengan penuh warna….

Semoga kau bahagia di sana ,,,

Bersama kehidupan baru mu….
»»  READMORE...

Cerpen


Ku dan Segalanya di Hidupku


Perlahan aku berjalan menaiki  jalan setapak menuju sebuah danau, bau tanah dan rintik hujan menemaniku menjelajahi petualangan tersebut, aku  tersenyum melihat sesosok pria telah menungguku. Aku  mempercepat langkahku, mencoba menggapainya lebih cepat. Tak peduli hujan yang semakin deras, dan beceknya tanah khas pedesaan mengotori rok panjang putihku.
“DOR~! Hayo, nglamunin aku ya!” ujarku berniat mengagetkannya.
“Kamu kok telat banget sih? Tuh kan, udah tambah gelap. Lilinnya udah mati semua.. Kena air hujan tuh!”, jawabnya sambil menatap terus kearah lilin-lilin kecil, yang telah padam terkena air hujan.
Lilin berwarna merah, warna kesukaanku, jawabnya sambil terus menatap terus kearah lilin-lilin kecil yang beberapa telah padam terkena air hujan. Lilin berwarna merah, warna kesukaanku, yang telah ditatanya sedemikian rupa membentuk hati.Ya, memang. Lilin-lilin itu sangat indah. Aku melihatnya sekilas sebelum semuanya mati satu persatu. Namun, menurutku lebih indah melihat senyumannya daripada lilin-lilin yang telah padam tersebut. Jauh lebih nyata dan indah, itu kosakataku sendiri.
“Aneh, ya? Tadi tuh di sekolah panas banget! Sekarang disini hujan lebat..”, ujarku memperbaiki suasana yang sepi itu.
“Haha… Matahari sama hujan kuatan matahari kali.. Buktinya matahari belum mati setelah miliaran tahun hidup menemani manusia, sedangkan hujan dalam beberapa hari dapat hilang”, jawabnya panjang lebar.
“Kamu lama nunggu ya? Aku minta maaf banget!”, katamu memohon.
“Nggak kok, baru ajaa.. Aku Cuma bercanda tadi”, sambil nyengir kuda.
“Maaf ya, kemarin aku nggak bisa menemani kamu check up ke dokter. Maklum kemarin ada pengayaan.. Gimana kata dokter?”, tanyaku dengan lembut namun dengan nada khawatir.
“Nggak papa kok. Aku ‘baik’ . Aku akan selalu baik kalo ketemu sama kamu..”, ujarnya. Sekali lagi dengan senyuman jahil khasnya.
“Yaaa.. Maunyaa…”Yah… Aku tahu keadaannya. Dia kuat diluar, namun rapuh didalam.
Entah apa yang membuatnya selalu tegar menghadapi cobaan tersebut.Seolah kehabisan kata-kata, kita hanya terdiam. Sore itu, kamu dan kekasihmu, Dika, mengunjungi danau itu untuk yang kesekian lainnya. Itu adalah danau favorit kita. Tempat dimana kita pertama bertemu, berkenalan, bahkan mengerjakan segala sesuatu bersama-sama.Danau Abadi. Yah.. Begitulah Dika menamakan danau itu. Memang terdengar aneh, beberapa kali aku  menanyakan mengapa dia menamakannya seperti itu. Dan Dika menjawab,
“Agar nanti saat aku tak ada kamu tetap dapat mengenangku disini. Dimana kamu dapat mengenang masa-masa awal kita bertemu, sampai saat ini”.
Sekali lagi, dia menjawabnya dengan senyum jahil khasnya.
“Kamu pernah nyadar gak tentang sesuatu di danau ini?”, tanya Dika.
“Nyadar apaan? Perasaan selama 4 tahun kita pacaran, keadaan danau ini sama aja deh..”, katamu.
“Dasar nggak peka! Itu loo.. Berang-berangnya.. Aneh aja, masa musim panas main di danau..”, jelasnya.
“Apanya yang aneh? Perasaan dari dulu deh kayak gitu..”, ujarmu nggak ngerti.
“Bukan itu maksudku. Mereka itu kan sepasang. Dari dulu aku perhatiin mereka itu saling setia rasanya. Mereka nggak gonta-ganti pasangan. Kamu mau nggak, kalo aku udah nggak ada nanti, kamu mau kan cari orang lain buat jagain kamu? Yang lebih sehat, yang nggak sakit-sakitan?”Pertanyaannya membuatku tereyuh.
“Aku gak pernah kepikiran hal itu”, batinmu.
“Dulu, Dika itu optimis, Ika itu tegar, kemana Ika yang dulu?”, tanyamu kepada Dika.
“Sebentar, aku belum selesai bicara. Aku hanya berjaga-jaga. Nanti kalau aku sudah tidak ada, supaya kamu tak ragu untuk mencari penggantiku”, jelasnya dengan nada lirih.
“Dika.. Kamu harus optimis. Coba lihat matahari itu. Dia memang selalu terbit dan terbenam tiap hari. Ibaratkan matahari itu kamu. Itu tandanya kalau ada terang kan setelah gelap! Pasti ada harapan buat kamu, sekecil apapun itu!”, ujarku.“Aku nggak bakal baik-baik aja, kalau kamu pergi, Dika. Aku membutuhkanmu. Kita semua, sekolah, sahabat kita, semua membutuhkanmu..”, ujarku.
 Namun Dika hanya menanggapinya dengan senyuman nan tak ikhlas. Dika selalu berjanji akan selalu menjagaku, di sisa umur hidupnya di dunia ini. Dia hanya tersenyum saat aku memintanya menjagaku selamanya.Kita kembali terdiam, menatap air danau yang tampak kekuningan, yang membiaskan cahaya matahari yang tenggelam. Daun-daun kuning mulai berjatuhan, tanda tak kuat lagi menahan derasnya air hujan.
“Pulang yuk, kamu nanti sakit, soalnya udah sore. Aku juga harus minum obat, biar bisa jagain kamu selamanya”, sekali lagi diar berkata sambil tersenyum jahil. Kita berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah. Maklum kita bertetangga. Namun kali ini dengan saling bergandengan tangan. Aku menggenggam jemarinya erat-erat. Seakan takut kehilangannya.
                Keesokan paginya,Semilir angin mengiringi langkah kalian berdua, menuju gedung SMA kita.  sekolah kita yang telah menjadi rumah kedua untuk menghabiskan waktu berduaan.
“Pagii Abang  Dika”
“Pagii Kak”
“Morning Kak Dika”Selalu begitu. Setiap pagi tidak ada yang tidak menyapa Dika jika berpapasan. Dika orang yang ramah, begitu komentar orang yang pernah kenal Dika. Mereka menyukai Dika karena kesupelannya dalam bergaul. Mereka berkata bahwa aku beruntung mendapatkan Dika. Dan aku setuju dengan pernyataan itu.
“Pagi Wulan”, sapa cowok yang rupanya bernama Bisma.Bisma adalah sahabatku dan Dika, tempat  curhat jika ada rasa kesal antara aku dan Dika, Bisma bisa dibilang orang yang menjodohkan kita  sekaligus dokter cinta kita.
“Jangan panggil aku Wulandong. Aku kan bukan cewek..”, protes Dika.
Aku hanya bisa tersenyum gelid an menimpali,  Bisma
” Dika.. Main basket yuk! Aku pengen nyoba ngalahin kamu.. Masa seminggu ini aku terus yang kalah?”
“Nggakpapa dong..”, ujar Dika.
“Mau main ngak nih?”, ujarku menengahi perdebatan. “Kamu bolehin nggak?”, tanyanya. Aku hanya mengangguk kecil tanda mengijinkan.
“Oke Bisma … Ayo!”, ujar Rangga. Lagi-lagi dengan senyuman khasnya. Dika segera merebut bola basket dari tangan Bisma, mendribblenya, dan meng-SHOOT-nya. Rupanya masuk. 3 point! DIa pun segera melompat-lompat, lalu membuka bajunya, dan memutar-mutar bajunya di udara. Layaknya orang yang baru mendapat uang US$100M.
“Berapa lama lagi dia sanggup bertahan dalam situasi seperti ini ya Tuhan?”, batinku.
Aku tahu bahwa Dika berada di masa-masa sulit. Aku tahu betul bahwa dia mendapatkan sesuatu hal yang tidak diinginkan. Aku sudah berjanji tidak akan menangis mengingat tentang Dika, namun mataku tidak ingin bekerja sama. Air mataku sudah menetes. Besok, sekarang, maupun tahun depan, dia pasti akan pergi. Aku  tidak sanggup menerima kenyataan tersebut. Dika sudah mau bertahan untukku, untuk menjagaku, untuk pengorbanannya aku ucapkan terima kasih.aku  tak ingin Dika  mengetahui bahwa aku sedang menangis, maka aku segera berlari menuju kelas.
Aku mendengar suara Dika, mengalun dari suatu ruangan. Yang menciptakan suatu harmoni, kesimetrisan antara suara Dika dan piano berdenting yang sedang dia mainkan. Aku  membuka pintu ruangan itu dan menemukan sosok Dika yang sedang duduk memainkan pianonya dengan semangat. Aku  mengamatinya tanpa berkedip. Setelah aku sadar dari lamunanmu, aku melihatnya  meberi isyarat untuk duduk disebelahnya, tiba-tiba jemarimu ikut bermain dalam tuts-tuts hitam putih itu, memainkan piano itu berdua. Tak lupa berduet lagu tersebut. Yang menyemburkan seni yang lebih indah daripada sebelumnya. Yang membuat semua dalam ruangan itu bergidik, serasa mendengar suara dari surga.
                Prok prok prook…………
“Ciee… Tempat pacarannya pindah…. Yang dulu danau sekarang ruang kesenian…”, ledek Rafael.
“Romeo Juliet kita tambah kompak aja nih… Prikitiew…”Semua teman-temanmu menggodamu, tentu saja pipiku  langsung merona merah karena malu. Mereka semua adalah tim teater SMAku, kita memang latihan langsung di gedung kesenian ini, untuk pementasan drama musikal kalian minggu depan, Romeo dan Juliet.
Setelah Bu Prita, guru pembimbing kami datang, kami segera mulai latihan.aku  pun merasa lega, karena terbebas dari ocehan dan godaan tidak bermutu , yang berasal segerombol anak teater yang mulutnya memang sudah terkenal jahilnya satu sekolahan.Kebetulan aku dan Dika dipasangkan menjadi Romeo dan Juliet dalam drama tersebut, untuk sementara latihan masih berjalan lancar.Sampai ending, semua mata masih beronsentrasi mengamati aktingku dan Dika, menanti bagian yang paling penting. Semua fokus dan tampang serius, namun ada juga pihak yang tidak serius…Lihatlah! Apa yang akan dilakukan Dika kali ini ?
“Juliette sayang,,,”, panggilnya lembut.
“Yaa??”
“Tolong… Aku minta tolong sama kamu.. Ini menyangkut hidup aku selamanya…”, ujarnya serius.
“Ucapkan saja apa yang kamu butuhkan, maka aku sebagai wanita yang mencintaimu akan menolongmu, Romeo-ku..”, jawabmu.
“Tolong bayarin pizza di tukang depan sekolah dongs….”, ujar Dika memelas..
“HAHAHAHAHAHAHAHAHA…”, semua tertawa keras.
“Romeo-nya kere!”, komentar salah satu siswi.
Dika hanya bisa nyengir tanpa dosa dan menggaruk-garuk belakang kepalanya, yang sama sekali tidak gatal.
“Kamu ini bercanda saja… Sudah-sudah, latihannya kita lanjutkan besok, kesuluruhan sudah bagus, tingkatkan lagi, dan jangan main-main”, ujar Bu Prita.Lihatlah, lihatlah tingkah laku Dika .Padahal baru beberapa menit lalu dia menghapus darah segar yang mengalir dari hidungnya, dan dia masih bisa membuat keceriaan di ruangan ini. Membawa kebahagiaan bagi kalian, tim teater.
“Arrgh.. God.. Kalau boleh.. Dapatkah aku menggantikan posisinya?”, batinku sedih.
Hari berganti hari, dan minggu pun terus berganti. Hari pementasan pun tiba. Kita didandani dengan kostum bak pangeran dan putri, dan make-up artis terkemuka langganan artis ibu kota.Panggung megah yang didekorasi seperti berada di Italia sana, dekorasi yang menurutmu terlalu megah untukku dan Dika, membuat kita semakin gugup. Dika  pun berkeinginan menenangkanku,
“Lihatlah ke arah kanan. Akan ada Romeo yang kau cintai. Saat ini kamu adalah Juliette-ku, dan aku adalah Romeo-mu. Ulurkanlah tanganmu, dan ingatlah, disana ada Romeo yang kamu cintai. Romeo yang berjanji menjagamu selamanya, sampai maut tak berani memisahkan kita. Kamu tak sendirian. Aku pun begitu. Aku punya kamu di sini”, seraya memegang tanganku dan meletakkannya di dada Dika
Panggung yang berdekor megah, membuatku berdebar-debar saat menjalani lorong gelap menuju panggung tersebut. Kata-kata Rangga masih terngiang di benakmu,
“Ulurkanlah tanganmu, maka ada Romeo yang kamu cintai”. Semua arahan dari Bu Prita terselesaikan hari ini. Bu Prita terlihat memasang senyum terindahnya untuk tim asuhannya.Adegan demi adegan terlihat sangat alami, karena adanya dukungan dari orang-orang sekelilingku, tanpa godaan-godaan nakal anggota teater lain. Setiap pemain terlihat serius.Tibalah saat yang paling ditunggu-tunggu, yaitu pada saat ending. Sempat terbesit di pikiranku bahwa Dika akan memintaku melunasi hutangnya di tukang pizza.
Kini Dika sedang berakting, seolah mencariku, Sang Juliet-nya..Sampai akhirnya kita bertemu, dibawah sebuah pohon rindang, di suatu malam yang bertabur bintang nan terang.
“Kamu tahu, bahwa aku ingin terus menjagamu di sisa hidupku. Aku selalu menginginkanmu di saatku terpuruk, saat senang, saat sepi, saat tawa, saat tergelap dan terangku, namun satu hal yang harus kamu ingat. Bila ujung waktuku tiba, bila aku harus meninggalkanmu sendiri, pergi dari dunia ini, ada pengecualian. Aku tidak ingin kamu menemani aku. Masa depanmu masih panjang, aku tak memintamu tetap disisiku selamanya.”
Semu terdiam, suasana gedung menjadi sepi senyap, laksana malam di kisah.
“Bukan! Ini bukan dialognya, kamu salah”, dalam hatiku berkata. Aku sempat panik dan menginjak kakinya, namun Dika tetap menatap mataku yang hitam legam tanpa bergeming,
“Aku bukan lelaki yang patut kamu cintai. Aku bukan Romeo, yang bodoh, yang harus menyerah pada takdir, untuk mendapatkan yang diinginkannya. Aku hanyalah lelaki yang berserah kepadaNya dan tidak mau mengikuti apa keinginan dagingku. Kamu pun juga bukan Juliette, yang tidak patuh kepada orang tuanya.Kamu buka Juliette yang harus mengakhiri hidup menenggak racun untuk menemui Romeo-nya yang belum tentu jodohnya. Jika waktuku tiba nanti, tetaplah berjuang melanjutkan hidupmu, Julietteku sayang. Sebarkanlah cinta kita, bahwa cinta adalah hal yang sederhana. Yang tidak perlu ditukar dengan nyawa. Kamu hanya cukup mengenangnya di sini”, ucapnya seraya meletakkan tanganku didadanya.
Aku mendadak terdiam. Dialognya memang salah, namun aku dapat melihat, bahwa dia dapat membuat ratusan mata berlinang air mata. Tidak tua, tidak muda, laki-laki, maupun perempuan, merasa terharu dengan ucapannya. Termasuk Bu Prita yang tadi sempat memelototi Dika.Tiba-tiba Dika, menubrukku, dan memelukku dengan erat. Air mataku pun tak dapat ditahan lagi dan aku menangis, tak peduli jika riasanku terhapus.
Sejenak, aku masih mengira Dika masih berakting, namun tubuhnya memberat, dan darah segar membasahi jas sutranya yang berwarna putih. Kamu tak kuasa menopang berat tubuhnya, dan Dika perlahan jatuh dari pelukanmu. “Dika, kamu kenapa Dika …?”, teriakku histeris. Beberapa orang di gedung itu menghampiri. Tubuh lemah Dika digotong beberapa orang menuju sebuah rumah sakit yang terbaik di kotaku. Drama musical ditutup dengan ending yang tidak jelas.
                “Arggh.. Tuhan.. sakit…”, erangnya. Aku  terbangun, bau morfin dan obat bius lainnya menyambut kedatanganku dari wisata dunia mimpi. aku melirik jam tangan pemberian Rangga, pukul 23:40. 20 menit lagi tanggal 6 Januari, hari ulang tahun Dika yang ke 23.
“Kamu gakpapa, Dika?”, tanyaku khawatir.
”Aku selalu ‘baik’ kok..”, katanya. Aku  tak kuasa menahan tangismu,
“Nggak papa gimana? Kamu tadi pingsan ! Pingsan! Aku gak mau kehilangan kamu! Aku nggak siap!”, teriakku histeris.
“Jangan nangis sayang.. Aku sayang kamu, dan aku tahu kamu juga sayang kamu. Aku mau ngrayain ulang tahun aku”, ucapnya lembut seraya menghapus air mataku menggunakan jemarinya yang ramping
.“Nggak nyangka yaa.. Mama sudah nglahirin aku 23 tahun lalu, dan sekarang aku seperti ini. Aku sudah sebesar ini, punya pacar yang baik dan pengertian seperti kamu. Aku udah bertahan 6 tahun dari penyakit sialan ini. Jujur aku capek. Kalau nggak ada kamu aku nggak tau bakal jadi apa.”, jelas Dika.
Aku  tak dapat membendung lagi air mata kamu dan menangis lagi.
“Kamu ngomong apa sayang?” suaraku bergetar semakin hebat, tangisku tak dapat reda.
“Sayang jangan nangis. Nyanyi dong buat aku. Buat ulang tahun aku..”, ajak Dika yang sudah kebingungan bagaimana cara menenangkanku.
“Tapi nggak pake nangis..”, tambahnya lagi.Aku menatap matanya, matanya selalu teduh dan indah. Kita memang telah membahas tentang ini ratusan kali, jika Dika pergi, membahas bagaimana kelanjutan kisah cintaku. Dika  selalu menyisipkan pesan dan semangat disetiap pembicaraan kita, namun ternyata sulit sekali. Saat ini aku merasa bahwa Dika akan pergi meninggalkanku  dan kamu berharap Tuhan berbaik hati untuk mencabut nyawaku juga. Kamu bernyanyi pelan, dan kamu menangis lagi.
Saat laguku usai, aku melihat jam tanganku, pukul 00.03.
“Happy birthday, Dika.. Happy birthday, Dika.. Happy birthday, happy birthday, happy birthday, Dika …”ucapku lirih, namun tetap dengan tangis berderai. Aku dapat merasakan mata Dika menutup perlahan, tangannya yang mendingin, dan wajahnya yang memucat.Monitor pendeteksi detak jantung di sebelah tempat tidur berubah menjadi garis lurus..
“Makasih, udah mau bertahan selama ini buat aku”, kataku. Aku mengecup pipi Dika, dan duduk di sampinnya. Aku  merasa pandanganku  menjadi gelap. Semua menjadi samar, dan rohku beringsut meninggalkan ragamu, menjadi ringan dan damai. Ya, aku telah menyusul Dika ke sana. Melanjutkan kisah cintaku bersamanya.. selamanya…..
»»  READMORE...

Cerpen

Diary Lama Kekasihku

suatu pagi yang cerah, di pinggir pantai terlhat sesosok manusia yang sedang menatap betapa agungnya mentari pagi menyinari bumi ini. Ia mendengarkan deburan ombak menghempas batu karang, ia merasakan dinginnya air lau yang menyegarkan. Ia berjalan mengelilingi pantai, entah apa yang di lakukannya. Lalu ia melihat sebuah villa yang tidak jau dari situ, ia menghampiri villa itu. Ketika ia memasukki villa itu ia menemukan sebuah buku diary yang tergeletak di sebuah kursi yang berada di balkon menghadap ke arah laut. Lembar demi lembar ia membukanya.
15 january 2011
Hari ini adalah hari pertama aku menempati rumah ini. Aku sangat menikmati pemandangan yang ada di sekitar sini. Lalu suatu saat aku bertemu dengan seorang lelaki, ia menabrakku di sebuah pasar.
Sesaat kemudian lelaki itu menatap betapa indahnya laut hari ini. Kemudian ia mencoba mengingat-ingat kenangan indah masa itu
*****
Ketika sedang asyik melihat-lihat pedagang yang sedang menawarkan barang-barang dagangannya, aku tidak sengaja menabrak seorang perempuan.
“ahw,,, ati-ati dong kalo jalan..” ujar perempuan itu mengaduh kesakitan
“maaf mbak.. gak sengaja…maaf ya” ujarku yang membantu perempuan itu bangkit dari jatuhnya
“makanya mas jalannya tuh pake mata, orang segede ini di tabrak” ujar perempuan itu
“lho mbak bukannya jalan itu pake kaki yahh ,,, hehe” candaku
“ahh.. tau..” jawab perempuan itu dengan jutek dan pergi meninggalkanku
******
Aku pun tersenyum mengingat kejadian itu, kembali ku buka lembar selanjutnya.
17 january 2011
Aku bertemu dengan seorang yang sangat menyebalkan, masa baru ketemu minta kenalan…
Ihh…. Tapi si masnya tadi lumayan juga yahh.. hehe ^_^
******
Aku melihat perempuan yang kutabrak kemarin di pasar, aku menatapnya dari kejauhan. Lalu aku berinisiatif untuk menghampirinya.
“hay mbak..” ujarku sambil nyelonong begitu saja ketika perempuan itu sedang meminum kopinya
“apa sih..” jawabnya
“boleh kenalan gak mbak…” ujarku yang menyodorkan tanganku ke hadapnya. Tapi ia tidak menanggapinya, ia tengah asyik meminum kopinya dengan melihat sebuah buku di tangannya.
“mbaakk?” sapaku
“apaan sihh.. sok kenal tau gak..”
“waduh si mbak … jangan jahat-jahat atuhh,,,” ujarku dengan senyuman
“kenalin mbak aku dicky.. mbak namanya siapa?” tanyaku kembali
“citra” jawab perempuan itu
“ehmm.. bagus,, si mbak ini baca apa sih kayak orang penting ajahh” tanyaku sambil mengambil buku yang ada di genggaman citra
“apaan sihh balikin donkk,,,,” ujarnya yang merengek
“nihh… jangan cemberut atuh.. ayok dah ikut aku jalan-jalan..” ajakku
“kemana.. ntar aku kamu culik,,”
“ih.. kurang kerjaan culik kamu mendingan culik anaknya SBY.. bisa kaya… udah ahh ayok ikut”
“ya dehh” jawabnya yang sedang membereskan barangnya
****
Ku buka kembali lembar selanjutnya.
16 april
Diary… hari ini aku bahagia sekali, dicky bilang dia sayang aku. Seneng deh.. aku sama dia resmi jadian hari ini. Dia njuga mengajakku pergi ke pantai. Ternyata dicky orangnya romantic. Aku semakin sayang ke dia. Hehe …
20 april
Diary dicky mengajakku ke sebuah tempat yang indah sekali, dia ingin bersama ku selamanya begitu ucapnya. Oh my god.. aku bahagia sekali….

16 juni
Diary kurang 2 hari lagi dicky ulang tahun,, aku ingin memberikannya sebuah kejutan.. semoga lancer kejutanku untuknya…

***
Hari ini aku sedang berada di rumah, aku menunggu citra untuk dating ke rumah. Karena kemarin ia berjanji akan dating kemari, sembari terus melihat jam aku mentap ke arah pintu tapi citra tidak muncul juga.
1 jam kemudian…
“dicky maaf aku telat,,” ujar citra yang memasukki rumah dengan terburu-buru
“ehm yahh.. it’s ok kok…” jawabku datar
“jangan marah donk…..” kata citra ssambil menarik-narik bajuku bak anak kecil yang tidak mendapat mainan.
“ayo ikut akuhh…” ujar citra yang kali ini menarik tanganku
Aku hanya menurut saja, setelah berjalan cukup lama. Kami sampai di tepi pantai.
“ kau tunggu sini…” ujar citra yang berlari entah kemana
Aku duduk di sebuah batang kayu yang cukup besar, aku menaap langit kemerahan yang menandakan matahari akan tenggelam. Ketika matahari akan tengelam citra muncul membawa sebuah kue tart dan menyanyikan lagu happy birthday. Aku melihat citra yang di sinari cahaya kemerahan dari sang mentari,
“hah…” aku melongo
“kenapa… gak suka” kata citra merengut
“aku suka kok.. makasih sayang,,” ujarku
“ tiup donk… make a wish dulu”
“tuhan aku ingin semoga ia berada di sisiku selamanya…”
“aminnn,,,,” jawabku dan citra bersamaan
Lalu kami berdua menikmati sunset yang indah .
****
Ketika mengingat kejadian itu aku tersenyum karena citra sangat mengejutkan. Ia selalu memberikan kejutan-kejutan kecil untukku. Tapi akupun sebaliknya, aku sangat senang membuatnya tertawa bahagia.
Sesaat kemudian aku di kagetkan oleh sesosok wanita yang memeluk pundakku.
“sayang…” ujarku
“sudah 5 tahun kita menikah.. tapi aku tetap mencintaimu…” ujar wanita itu.
“yah citra,, aku mencintai mu …” jawabku, sambil memeluk istriku tercinta, citra.
“mama… liat dehh…” teriak seorang anak di tepi pantai yang sedang bermain-main
“ya sayang..” jawabku, anak itu adalah buah cinta kami selama 7 tahun.
Ketika aku membuka lembar terakhir di diary lama istriku,

Diary…
Aku sangat mencintai suamiku, dicky.
Dia adalah orang yang sangat mengagumkan… terima kasih sayang kau telah memberikan warna yang indah dalan hidupku…..



»»  READMORE...

Cerpen

Katakan Cinta Sebelum Terlambat

Bisma dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan apapun,
hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka sedang asik
bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.


Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa berbagi
waktu denganku."

bisma "Kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita berdua
saja yang tidak punya pasangan sekarang."
(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)
Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"
bisma: "Eh? permainan apaan?"

Tina: " Eng. .. gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku jadi
pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"

bisma: "Baiklah.... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk beberapa bulan
ke depan."

Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari ini akan
jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"

bisma: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film Harry Potter 7 lagi maen
deh. katanya film itu bagus"

Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita ke
karaoke ya...
ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."

bisma : "Boleh juga..."
(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan bisma mengantarkan Tina pulang
malam harinya)


Hari ke 2:
bisma dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di kafe,
suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa hati
mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang bisma membeli sebuah
kalung perak berliontin bintang untuk Tina.

Hari ke 3:
Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang sahabat
bisma.
Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan membeli
sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat duduk di
foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua dan mulai
berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7:
Bermain bowling dengan teman-teman bismar. Tangan tina terasa sakit karena
tidak pernah bermain bowling sebelumnya. bismamemijit-mijit tangan Tina
dengan lembut.

Hari ke 25:
bisma mengajak Tina makan malam di Ancol Bay . Bulan sudah menampakan diri,
langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam pelukannya. Mereka
duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin berpadu dengan
suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina memandang langit, dan
melihat bintang jatuh. Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41:
bisma berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk bisma. Bukan
kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai timbul dalam
hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik. bisma terharu
menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat meniup lilin ulang
tahunnya.

Hari ke 67:
Menghabiskan waktu di Dufan.. Naik halilintar, makan es krim bersama,dan
mengunjungi stand permainan. bisma menghadiahkan sebuah boneka teddy bear
untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen untuk Peter.

Hari ke 72:
Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China .. Tina
penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal. Sang peramal hanya
mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai sekarang", kemudian peramal itu
meneteskan air mata.

Hari ke 84:
bisma mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai. Pantai Anyer sangat sepi
karena bukan waktunya liburan bagi orang lain. Mereka melepaskan sandal dan
berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan tangan, merasakan lembutnya
pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki mereka. Matahari terbenam, dan
mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah lagi.

Hari ke 99:
bisma memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan sederhana.
Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota .


15:20 pm
Tina: "Aku haus.. Istirahat dulu yuk sebentar."
bisma: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu.. Aku mau teh botol saja. Kamu
mau minum apa?"
tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling kota hari
ini. Sebentar ya"
bisma mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana Jakarta
selalu macet.


15:30 pm
bisma sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.
Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan wajah
panik.
bisma : " Ada apa pak?"
Orang asing: " Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya perempuan itu
adalah temanmu"
bisma segera berlari bersama dengan orang asing itu.
Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari siang,tergeletak
tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol minumannya.
bisma segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit terdekat.
bisma duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.
Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.


23:53 pm
Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik. Dia masih
bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.. Kami menemukan
surat ini dalam kantung bajunya."
Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada bisma dan dia
segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya pucat tetapi
terlihat damai.
bisma duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina dengan
erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya bisma merasakan torehan luka yang sangat
dalam di hatinya.
Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.
Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.


Dear bisma...
ke 100 hari kita sudah hampir berakhir.
Aku menikmati hari-hari yang kulalui bersamamu.
Walaupun kadang-kadang kamu jutek dan tidak bisa ditebak,
tapi semua hal ini telah membawa kebahagiaan dalam hidupku.
Aku sudah menyadari bahwa kau adalah pria yang berharga dalam hidupku.
Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam lagi
sebelumnya.
Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita bisa memperpanjang
hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang kuucapkan pada bintang jatuh
malam itu di pantai,
Aku ingin kau menjadi cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi
kekasihmu selamanya dan berharap kau juga bisa berada disisiku seumur
hidupku. bisma, aku sangat sayang padamu.


23:58
bisma: "Tina, apakah kau tahu harapan apa yang kuucapkan dalam hati saat
meniup lilin ulang tahunku?
Aku pun berdoa agar Tuhan mengijinkan kita bersama-sama selamanya...
Tina, kau tidak bisa meninggalkanku! hari yang kita lalui baru berjumlah 99
hari!
Kamu harus bangun dan kita akan melewati puluhan ribu hari bersama-sama!
Aku juga sayang padamu, Tina. Jangan tinggalkan aku, jangan biarkan aku
kesepian!
Tina, Aku sayang kamu...!"

Jam dinding berdentang 12 kali.... jantung Tina berhenti berdetak.
Hari itu adalah hari ke 100...


Katakan perasaanmu pada orang yang kau sayangi sebelum terlambat.
Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi besok.
Kau tidak akan pernah tahu siapa yang akan meninggalkanmu dan tidak akan
pernah kembali lagi.
»»  READMORE...